Fenomena Korean Wave atau Hallyu telah melampaui musik dan drama, merambah ke sektor gastronomi dan menciptakan Booming Kuliner Korea yang masif di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Popularitas makanan seperti Kimchi, Tteokbokki, dan Korean BBQ bukan hanya tren sesaat, tetapi telah menjadi kekuatan pendorong yang signifikan dalam kerja sama budaya dan memperkuat hubungan ekonomi antarnegara. Ekspansi bisnis Kuliner Korea ini juga membuka peluang besar bagi Kemandirian Finansial para wirausahawan lokal yang mampu mengadaptasi dan mengolahnya sesuai selera pasar.
Penyebaran Kuliner Korea sangat didukung oleh konten media populer. Setelah drama-drama Korea sukses tayang, terjadi peningkatan permintaan yang instan terhadap makanan yang ditampilkan di layar. Hal ini memicu pertumbuhan pesat restoran, franchise, dan gerai street food yang menawarkan menu khas Korea. Di Indonesia, fenomena ini direspons cepat oleh pelaku UMKM. Sebagai contoh, di Kota Bandung, Jawa Barat, jumlah restoran dan cafe yang menyajikan makanan Korea meningkat lebih dari 60% dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.
Pemerintah Korea Selatan sendiri secara aktif mendukung promosi kuliner melalui inisiatif diplomasi makanan global yang dikenal sebagai “Hansik Globalization”. Upaya ini melibatkan pelatihan bagi juru masak internasional dan standardisasi resep. Dampaknya, terjadi peningkatan impor bahan baku spesifik dari Korea, seperti gochujang, gochugaru, dan tteok (kue beras), yang mencapai puncaknya pada kuartal kedua tahun 2025. Menurut data simulasi perdagangan yang ada, total nilai impor bahan makanan Korea ke Indonesia pada tahun tersebut diproyeksikan mencapai Rp300 miliar.
Namun, yang menarik adalah bagaimana Kuliner Korea mendorong kerja sama budaya lokal. Banyak restoran lokal mengadopsi konsep fusion, menciptakan hidangan unik yang menggabungkan cita rasa Korea dengan bahan atau resep Indonesia. Misalnya, munculnya Jajangmyeon yang dimakan dengan kerupuk Indonesia atau Kimchi yang dibuat dari sayuran lokal. Pada Rabu, 17 Juli 2024, Asosiasi Restoran Korea Indonesia (ARKI) mengadakan workshop bertajuk “Rasa Asia Tenggara dalam Kimchi”, yang dihadiri oleh 100 chef lokal. Workshop ini bertujuan untuk menemukan titik temu antara selera Indonesia dan resep autentik Korea, menciptakan pasar yang lebih inklusif.
Lebih dari sekadar resep, booming Kuliner Korea ini juga membawa standar baru dalam layanan dan pengalaman bersantap, seperti konsep Grill All You Can Eat dan dekorasi minimalis. Inilah mengapa banyak restoran franchise Korea membuka lapangan kerja baru. Sebuah jaringan restoran Korean BBQ yang berekspansi di Kota Medan, Sumatera Utara, pada Maret 2025 telah merekrut dan melatih 150 karyawan baru yang sebagian besar adalah lulusan sekolah kejuruan perhotelan setempat. Dengan demikian, booming Kuliner Korea tidak hanya memperkaya pilihan makanan kita, tetapi juga menstimulasi pertumbuhan ekonomi lokal dan menjembatani pemahaman antarbudaya.
